Perencanaan Mewaris Dalam Islam

Al-miirats, dalam bahasa Arab adalah bentuk masdar (infinitif) dari kata waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan. Maknanya menurut bahasa ialah: berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain, atau dari suatu kaum kepada kaum lain. Pengertian menurut bahasa ini tidaklah terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan harta, tetapi mencakup harta benda dan nonharta benda. Ayat-ayat Alquran banyak menegaskan hal ini, demikian pula sabda Rasulullah –shalawat dan salam tercurah untuknya. Di antaranya Allah Taala berfirman:

            “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud …” (An-Naml: 16)

            “… Dan kami adalah pewarisnya.” (Al-Qashash: 58)

Selain itu kita juga bisa mendapatinya dalam hadis Nabi–shalawat dan salam tercurah untuknya.:

“Ulama adalah ahli waris para nabi.”

Sedangkan makna al-miirats menurut istilah yang dikenal para ulama ialah: berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milik legal secara syariat.

Meninggalkan harta waris adalah infak yang disunahkan, namun pembagiannya menjadi wajib. Hal ini berdasarkan firman Allah taala, “Hukum-hukum (mengenai pembagian waris tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (Surat ke-4 An-Nisa ayat 13 dan 14)

Analisis Perencanaan Waris

Perencanaan waris yang baik dapat memberikan kepastian bahwa bagian terbesar dari kekayaan yang telah Anda bangun sepanjang hidup terlindungi dengan baik dan kelak akan dibagikan sesuai dengan cara yang Anda inginkan (mengikuti ketentuan syariat). Pastikan Anda merencanakan sesuai prioritas yang Anda inginkan untuk kekayaan Anda, baik untuk hari ini maupun kelak saat Anda meninggal. Anda dapat memberikan analisis untuk mengidentifikasikan strategi-strategi yang dapat dilaksanakan sesuai syariat dan mewariskan kekayaan Anda dalam jumlah yang semaksimal mungkin kepada orang-orang yang Anda cintai berdasarkan laporan kekayaan yang Anda buat dan diperbarui dari waktu ke waktu.

Tujuan Perencanaan Waris

  1. Untuk memastikan nilai kekayaan (net worth) dapat dibagikan sesuai keinginan pemilik harta (sesuai syariat), karena walaupun meninggalkan harta waris bagian dari infak sunah, cara pembagiannya wajib menurut hukum syariat
  2. Untuk menghindari pendistribusian harta yang tidak sesuai dengan hukum syariat (sesuai hak-haknya) dan tidak menimbulkan beban biaya dalam prosesnya.

Namun untuk mewujudkannya, kendala yang sering dihadapi adalah:

  1. Tidak adanya laporan kekayaan pribadi (nominal)
  2. Tidak adanya pemisahan harta sesuai dengan sumber harta dan kepemilikannya (bawaan dan investasi bersama)
  3. Keengganan membagikan harta waris segera (etis)
  4. Tidak memahami hak-hak ahli waris dan siapa saja mereka
  5. Harta akan dibagi dengan hukum yang berlaku (belum tentu sesuai syariat atau keinginan pewaris) dan pada akhirnya ada harga yang harus dibayar (ketidakberkahan harta atau biaya sengketa, dll.)
  6. Pembagian harta habis semasa masih hidup, namun tidak memberikan maslahat pada pewaris yang masih memerlukan harta sebagai pegangan pokok kehidupannya.

Sebab-Sebab Mendapatkan Waris:

  1. Memiliki ikatan kekerabatan secara hakiki (ada ikatan nasab murni atau ikatan darah), seperti kedua orangtua, anak, saudara, paman, dan seterusnya.
  2. Adanya ikatan pernikahan, yaitu terjadinya akad nikah legal yang telah disahkan secara syariat. Adapun pernikahan yang batil atau rusak, seperti nikah mut’ah/kawin kontrak dan sebagainya, tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak waris. Bagaimana bisa ada hak waris, sedangkan pernikahannya itu sendiri adalah tidak sah.
  3. Al-wala, yaitu terjadinya hubungan kekerabatan karena membebaskan budak. Orang yang membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang sebagai manusia yang merdeka. Karena itu Allah Taala. menganugerahkan kepadanya hak mewarisi (hartanya) terhadap budak yang dibebaskan (dengan syarat budak itu sudah tidak memiliki satu pun ahli waris, baik ahli waris berdasarkan ikatan kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali pernikahan).

Definisi Warisan

Al-faraidh ( اَلْفَرَائِضُ ) adalah bentuk jamak dari faridhah ( فَرِيْضَةٌ ), sedangkan kata faridhah itu sendiri diambil dari kata al-fardhu اَلْفَرْضُ yang maknanya adalah at-taqdiir (اَلتَّقْدِرُ) yang berarti ketentuan.

Alfardhu (اَلْفَرْضُ) dalam istilah syariat adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris. Harta yang dibagikan setelah pemiliknya meninggal adalah waris dan wasiat. Adapun jika diberikan sebelum pemilik harta meninggal disebut hibah. Terkait hibah harus diberikan secara adil untuk setiap anak, seperti keterangan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab dan Abdul Ala. (dalam jalur lain disebutkan) telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Yaqub Ad Dauraqi semuanya dari Ibnu Ulayyah dan ini adalah lafadz Yaqub, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Daud bin Abu Hind dari As Syabi dari An Numan bin Basyir yang diriwayatkan Imam Muslim No. 3059 dan Imam Bukhari No. 2397 dalam Kumpulan 9 Kitab Hadis:

“Ayahku pernah membawaku menemui Rasulullah sallallahu alaihi wassalam. Ayahku lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, saksikanlah bahwa saya telah memberikan ini dan ini dari hartaku kepada Numan.’ Beliau bertanya: ’Apakah semua anak-anakmu telah kamu beri sebagaimana pemberianmu kepada Numan?’ Ayahku menjawab, ’Tidak.’ Beliau bersabda: ’Mintalah saksi kepada orang lain selainku.’ Beliau melanjutkan sabdanya: ’Apakah kamu tidak ingin mereka berbakti kepadamu dengan kadar yang sama?’ Ayahku menjawab, ’Tentu.’ Beliau bersabda: ’Jika begitu, janganlah lakukan perbuatan itu lagi.’”

Rukun Mewarisi

  1. Ada pewaris, yaitu orang yang meninggal dunia yang meninggalkan sejumlah harta dan peninggalan lainnya yang dapat diwariskan.
  2. Ada ahli waris, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan, atau lainnya.
  3. Ada harta warisan, yaitu harta peninggalan milik pewaris yang ditinggalkan ketika ia wafat setelah dikurangi biaya-biaya dan utang serta wasiat. Bentuk dan jenis harta warisan ini dapat berbagai macam, seperti uang, emas, perak, kendaraan bermotor, asuransi, komputer, peralatan elektronik, binatang ternak (seperti ayam, kambing, domba, sapi, kerbau, dan lain-lain), rumah, tanah, sawah, kebun, toko, perusahaan, dan segala sesuatu yang merupakan milik pewaris yang di dalamnya ada nilai materialnya.

Lebih mudah dalam perencanaan waris, pencatatan harta ini disajikan dalam bentuk laporan keuangan neraca. Apabila pemilik harta ingin membantu ahli waris dalam distribusinya, maka kepemilikan ini sebaiknya dikuatkan dengan keterangan yang lebih rinci berupa akta notaris dan diperbaharui dari waktu ke waktu.

Ahli waris ada akibat tiga sebab :

[1]. Nasab atau pertalian darah dan keturunan, yaitu hubungan kekerabatan sebagaimana firman Allah Taala. “ Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak …”[Al-Ahzab : 6]. Pernikahan bisa berakhir dengan adanya perceraian/ perpisahan baik pasangan yang dicerai wafat (cerai mati) atau tidak (cerai hidup), namun belum tentu berakhir apabila terlahir keturunan dari hasil pernikahan tersebut.

[2]. Pernikahan yang benar sesuai hukum Islam, yang didasarkan kepada firman Allah, “Dan bagi kalian (para suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isteri kalian…” [An-Nisa : 12]

[3]. Kepemilikan budak yang dimerdekakan, yang didasarkan kepada hadits marfu dari Ibnu Umar, “Budak yang dimerdekakan adalah kerabat seperti kerabat nasab”

Disarikan dari Buku

Investasi Cerdas Bukan Warisi Utang (Panduan Lengkap Perencanaan Keuangan Syariah untuk Investasi & Mewaris ). Copyright ©2014 by Agus Rijal (Abu Yusuf) All rights reserved

Respond For " Perencanaan Mewaris Dalam Islam "

1
×
Masyarakat Indonesia Sadar Finansial Islami (Insafi) adalah gerakan moral yang bertujuan menyadarkan masyarakat Indonesia agar mempraktekan Finansial Islami dalam muamalah, dengan menghadirkan Kajian Keuangan Usaha & Keuangan Pribadi baik secara online melalui media sosial maupun offline.

Ikuti tautan ini untuk bergabung ke grup WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/9Ap37WCguBlGiOLcSM2M1B