Pahami Konsep An-Nuqûd (Uang)

Riba merupakan praktek muamalah yang dilarang oleh agama apapun. Tak kurang dari 73 pintu yang dapat bermuara pada riba yang diharamkan, salah satunya ketika kita tidak memahami konsep uang yang sesungguhnya. Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.

Pada awalnya di Indonesia, uang —dalam hal ini uang kartal— diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut. Pemerintah kemudian menetapkan Bank Sentral, Bank Indonesia, sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menciptakan uang kartal. Hak untuk menciptakan uang itu disebut dengan hak oktroi.

Manusia tidak bisa memenuhi segala kebutuhannya dari produksinya sendiri.  Ia perlu mempertukarkan barang atau harta miliknya dengan milik orang lain.  Pada mulanya itu dilakukan secara langsung (sistem barter).  Namun, sistem ini menyulitkan.  Misalnya, seorang petani ingin menukarkan berasnya dengan kambing.  Padahal pemilik kambing belum tentu menginginkan beras. Untuk itu, perlu sesuatu yang bisa menjadi alat pertukaran agar petani bisa menukarkan berasnya dengan sesuatu, lalu menukarkan sesuatu itu dengan kambing.  Alat tukar itu adalah sesuatu yang diterima umum sebagai satuan untuk menakar nilai barang dan jasa. Sesuatu yang menjadi satuan hitung itu disebut uang (money/ an-naqd).

Jadi, uang bisa diartikan sebagai sesuatu yang diistilahkan oleh manusia untuk menjadi harga bagi barang dan upah atas tenaga dan jasa, baik berupa uang logam atau selainnya.  Dengan uang seluruh barang, tenaga dan jasa bisa dinilai dan dipertukarkan.

Pada tahap awal, berbagai komoditas pernah dijadikan sebagai uang, seperti hewan (sapi, domba dan unta), biji-bijian (barley, beras, jagung dsb), garam, kulit kerang, dsb. Tahapan ini disebut tahapan uang komoditas (an-nuqûd as-sila’iyyah/commodity money). Karena banyak kesulitan, lalu diganti dengan uang logam. Tahapan ini disebut tahapan uang logam (an-nuqûd al-ma’daniyah/ metalic money).

Sekitar tahun 1000 SM, orang Cina membuat mata uang dari perunggu dan tembaga berbentuk lempengan bundar berlubang di tengah sehingga bisa direnteng dengan tali.  Kemudian pada abad ke-7 SM, penduduk Lydia di Asia Kecil membuat mata uang dari elektrum (campuran alami antara emas dan perak).  Pada abad yang sama di Yunani juga dicetak mata uang dari emas. Di Makedonia, Raja Philip Macedoni juga mencetak mata uang dari emas yang kemudian disebut Philipi. Selanjutnya Alexander Agung mencetak mata uang emas dan menstandarkan timbangannya.  Mata uang emas Romawi (Byzantium) disebut Solidos, sedang mata uang Yunani disebut Drachma.  Adapun mata uang perak pertama dibuat pada abad ke-3 SM di kuil penyembahan dewa Hera di Capitoline, yaitu kuil Juno Moneta (dari sinilah muncul sebutan money).  Lalu Persia juga mencetak mata uang perak itu dan menjadikannya mata uang resmi.  Selanjutnya dinar Byzantium dan dirham Persia itu menyebar ke Arab dan digunakan sebagai uang.

Orang Arab, khususnya Quraisy, mendapat dinar Byzantium dari perdagangan mereka ke Syam.  Adapun dirham Persia mereka peroleh dari perdagangan ke timur (Irak dan Iran). Kadang dari perdagangan ke Yaman mereka mendapat dirham Himyariyah, meski jumlahnya sedikit. Dinar Byzantium dan dirham Persia itu terus digunakan hingga masa Nabi saw. Beliau mendiamkan (menyetujui) penggunaan keduanya sebagai uang.  Kondisi ini terus berlangsung sampai Khalifah Umar bin al-Khaththab pada tahun 20 H mencetak dirham sama persis dengan dirham Persia, hanya ditambahkan tulisan Arab “Bismillâh” dan “Bismillâhi Rabbi”.

Dinar Byzantium dan dirham cetakan masa Umar itu terus digunakan sampai pada tahun 75 atau 76 H, khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak dirham khusus dengan corak islami, dengan tulisan Arab, tetapi timbangannya sama dengan dirham Persia (2,975 gr).  Pada tahun 77 H Abdul Malik mencetak Dinar dengan corak islami.  Sejak saat itu dinar dan dirham yang resmi digunakan dalam Khilafah Islam bercorak islami dan tidak lagi bercorak bizanti dan sasani. Dinar dan Dirham itu tetap menjadi mata uang Khilafah hingga Khilafah Utsmani runtuh pada tahun 1924.

Di Eropa setelah Romawi, mata uang yang digunakan tetap mata uang emas dan perak. Adapun di Cina, uang kertas sudah dicetak dan digunakan di Cina pada abad ke-9 M.  Uang kertas saat itu di-back up sepenuhnya dengan emas (uang kertas substitusi).  Artinya, sistem mata uang digunakan di dunia adalah mata uang emas dan perak atau berbasis emas dan perak.  Sistem ini terus berlanjut sampai tahun 1944 dalam perjanjian Breeton Wood, mata uang dunia disandarkan pada emas yang di-back up dengan emas meski tidak secara penuh.

Sistem mata uang emas baru ditinggalkan sejak Presiden AS, Richard Nixon, pada 15 Agustus 1971 mengumumkan dolar lepas dari sistem Bretton Woods.  Sejak itu sistem mata uang emas ditinggalkan total dan digantikan dengan sistem mata uang kertas yang sama sekali tidak di-back-up dengan emas dan atau perak.  Uang kertas jenis ini disebut fiat money dan digunakan di seluruh dunia hingga sekarang.

Universalitas Mata Uang Emas

Suatu benda dapat dijadikan sebagai “uang” jika benda tersebut telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Pertama, benda itu harus diterima secara umum (acceptability). Agar dapat diakui sebagai alat tukar umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau —setidaknya— dijamin keberadaannya oleh pemerintah yang berkuasa. Bahan yang dijadikan uang juga harus tahan lama (durability), kualitasnya cenderung sama (uniformity), jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan (scarcity). Uang juga harus mudah dibawa, portable, dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility), serta memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).

Uang yang ideal harus memiliki nilai intrinsik dan nilainya konstan.  Ini hanya dimiliki oleh emas. Dari berbagai riwayat diketahui, harga seekor kambing pada masa kenabian, rata-rata 1 dinar (mata uang emas). Dengan 1 mata uang emas yang memiliki berat yang sama, saat ini kita bisa membeli seekor kambing di mana saja di dunia ini, karena 1 mata uang emas dengan berat yang sama ditahun 2010 Rp 1,5 jutaan (1 gr emas ketika dihitung = Rp. 350 ribuan).  Artinya, selama 1.400 tahun lebih nilai dan daya beli mata uang emas itu konstan. Dengan kata lain, tidak terjadi inflasi harga kambing.

Jika selama 14 abad lalu terjadi inflasi harga kambing 1 % saja pertahun, maka harga kambing sekarang akan setara dengan 1 dinar x (1+0.01)^1400= 1,121,820 dinar. Namun,  karena faktanya harga kambing sekarang adalah sama dengan harga kambing 1.400 tahun yang lalu, maka inflasi harga selama 1400 tahun adalah 0.00%, yaitu 1 Dinar x (1+0.00)^1400 = 1 dinar !

Ketika Baginda Rasullah -shalawat dan salam terlimpah baginya, meninggalkan dunia ini 14 abad yang lalu, memang beliau tidak meninggalkan pesan apapun mengenai mata uang dan menetapkan suatu bentuk tertentu. Oleh karena itu, pemilihan bentuk mata uang dan banyak hal mengenai praktek muamalah, kecuali yang sudah nyata larangannya, tidak menjadi ketentuan yang mutlak, artinya umat Islam tidak terikat untuk mengikuti satu sistem tertentu. Yang lebih penting adalah sistem keuangan tersebut bisa mewujudkan tujuan muamalah setiap muslim. Namun dengan menerapkan mata uang emas, nilai kekayaan masyarakat akan terjaga dan terlindungi dari waktu ke waktu. Inflasi, walaupun tidak terkait langsung dengan mata uang karena posisi uang adalah alat ukur, akan lebih mudah dikendalikan sehingga kehidupan perekonomian pun relatif lebih stabil.

Namun, bukan berarti inflasi tidak akan terjadi dengan diberlakukannya mata uang emas, karena inflasi memiliki definisi yang berbeda dan inflasi bisa dibandingkan antar produk, tidak hanya antar produk dengan uang. Misalnya inflasi bahan makanan pokok terhadap bahan pokok lainnya, karena inflasi dipengaruhi pula oleh supply dan demand suatu produk juga needs dan wants pembeli terhadap barang tersebut, yang akhirnya dengan pendapatan yang tetap akan mempengaruhi daya beli.

Nama Dinar sendiri disebutkan 1 kali dalam QS. Ali Imran [3] ayat 75, “Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui’.

Dengan demikian, nama Dinar sendiri sebenarnya sudah dikenal, bahkan jauh sebelum Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam lahir, karena Ali Imran ayat 75 bermaksud menceritakan kisah umat terdahulu. Dalam suatu riwayat, mata uang emas dikenal sejak masa Nabi Idris ‘alaihis salam, 9000 tahun Sebelum Masehi (SM), sebagai Rasul Ke-2 yang pertama kali hidup menetap, mengenal tambang emas dan perak, dan mengolahnya menjadi sebuah mata uang.

Sementara mata uang Wariq dikenal dijaman ashabul kahfi, merujuk pada Surat Al-Kahfi [18] ayat 19,”Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?).’ Mereka menjawab: ‘Kita berada (disini) sehari atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi): ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa wariq ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun’.

Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rasyad Al-Qurthubi (w.450 H), Bab Kitab Zakat Adz-Dzahab Wa Al-Waraq, Beirut-Libanon: Penerbit Darul Gharbi Al-Islami, Cet.2, tahun 1988, Jilid 2, halaman 355- 422, menyebutkan bahwa wariq yang dimaksud adalah uang perak, seperti halnya yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir dan terjemah.

Dengan demikian, sejarah mata uang Dinar dan Wariq ini, berlangsung cukup lama mulai dari periode Nabi Idris, dilanjutkan ke periode Nabi Nuh, ke periode Hud, ke periode Nabi Sholih, ke periode Nabi Dzulqarnain, ke periode Ashabulkahfi (Wariq), ke periode Nabi Ibrahim, ke periode Nabi Luth, ke periode Nabi Isma’il dan ke periode Nabi Ishaq. Peristiwa penting ini, menurut Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Qishohul Anbiya’, secara implisit dijelaskan dalam Al-Qur’an di 403 ayat dalam Al-Qur’an.

Fungsi Uang yang Benar

Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedakan menjadi dua yaitu fungsi asli dan fungsi turunan.

Fungsi asli

Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai;

  • Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.
  • Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/ jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.
  • Uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.

Fungsi Turunan

Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan antara lain:

  • Uang sebagai alat pembayaran yang sah. Kebutuhan manusia akan barang dan jasa yang semakin bertambah dan beragam tidak dapat dipenuhi melalui cara tukar-menukar atau barter. Guna mempermudah dalam mendapatkan barang dan jasa yang diperlukan, manusia memerlukan alat pembayaran yang dapat diterima semua orang, yaitu uang.
  • Uang sebagai alat pembayaran utang. Uang dapat digunakan untuk mengukur pembayaran pada masa yang akan datang.
  • Uang sebagai alat penimbun kekayaan. Sebagian orang biasanya tidak menghabiskan semua uang yang dimilikinya untuk keperluan konsumsi. Ada sebagian uang yang disisihkan dan ditabung untuk keperluan di masa datang.
  • Uang sebagai alat pemindah kekayaan. Seseorang yang hendak pindah dari suatu tempat ke tempat lain dapat memindahkan kekayaannya yang berupa tanah dan bangunan rumah ke dalam bentuk uang dengan cara menjualnya. Di tempat yang baru dia dapat membeli rumah yang baru dengan menggunakan uang hasil penjualan rumah yang lama.
  • Uang sebagai alat pendorong kegiatan ekonomi. Apabila nilai uang stabil orang lebih bergairah dalam melakukan investasi. Dengan adanya kegiatan investasi, kegiatan ekonomi akan semakin meningkat.

Uang yang beredar dalam masyarakat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu uang kartal (sering pula disebut sebagai common money) dan uang giral. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik sesuai kebutuhan. Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini. Untuk menarik uang giral, orang menggunakan cek.

Riba dalam Uang

secara fiqh, riba sudah diatur secara jelas, yaitu bersumber pada hutang piutang yang menarik manfaat dan pertukaran item (barang-barang) dalam ketegori ribawi. Riba yang muncul dai pertukaran dinilai dengan pendekatan jenis dan illat (alasan efektip) pertukaran tersebut yang harus memenuhi syarat waktu penyerahan (kontan/ tunai) dan jumlah.

Dalam kondisi tertentu, jika item ribawi tersebut dipertukarkan, maka fungsi uang dimunculkan untuk meniadakan riba, contohnya 1 sha kurma (item ribawi dari bahan makanan pokok yang biasa ditakar) kualitas baik jika ingin ditukar dengan 2 sha kurma kualitas sedang atau rendah, maka diperlukan uang sebagai media. Karena jika keduanya ditukarkan langsung menjadi riba. 2 sha Kurma kualitas sedang/ rendah sekalipun nilainya setara dengan 1 sha kurma kualitas terbaik, namun masih harus dijual dahulu dengan nilai tertentu, baru kemudian hasil penjualan tersebut dibelikan 1 sha kurma kualitas terbaik.

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah dari Abu Sa’id radliallahu ‘anhu berkata: “Kami diberikan kurma yang bercampur (antara yang baik dan yang jelek) dan kami menjual dua sha’ dengan satu sha’”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh menjual dua sha’ dibayar satu sha’ dan dua dirham dengan satu dirham“. (Hadist Riwayat Bukhari No. 1938 dalam Kumpulan 9 Kitab Hadits Penerbit Lidwa Pusaka).

Ada 2 hikmah yang terkandung dalam menghindari transaksi ribawi tersebut; Pertama dimunculkannya fungsi uang dan menggeser kebiasaan barter dalam perdagangan. Kedua, dituntutnya ketaatan terhadap syariat, sekalipun dalam urusan muamalah yang umumnya mengedepankan logika dan cara berpikir rasional.

Pemahaman dasar yang baik terhadap kedudukan uang dalam ekonomi islam, akan menghapus 1 kebiasaan yang ditanamkan dalam ekonomi moderen saat ini, yaitu menjadi uang lebih dari sekedar alat pembayaran atau alat tukar/ alat ukur (currency), terlebih-lebih kondisi tersebut dipertajam oleh nilai transaksional antar mata uang yang mengalami apresiasi (naik atau turun).

Kebiasaan buruk yang lebih dahsyat lagi ketika uang dijadikan objek pinjam meminjam dan disetarakan dengan objek lainnya (tidak dipandang sebagai alat ukur/ alat tukar atau alat pembayaran), dengan kondisi demikian makna uang sudah hilang dari fungsi aslinya, alasan ini diperkuat oleh adanya nilai waktu dari uang (time value of money; TVM) yang sesungguhnya tidak ada dalam teori ekonomi apapun yang menempatkan uang sebagai alat pembayaran atau alat tukar/ alat ukur yang mengalami inflasi terhadap dirinya sendiri.

Cobalah kita renungkan, misalnya Anda membeli kain yang diukur, kemudian ada sebuah meteran yang ukurannya tidak tetap, sebutsaja istilah feet/ foot atau kaki, bisa juga siku, jengkal, langkah, dll. Tentusaja ukuran fisik setiap orang berbeda, maka ukuran pun akan menjadi beda. Kadang-kadang ukuran satu satuannya 150 centimeter disatu waktu, kemudian dilain waktu ukurannya hanya 95 centimeter. Tentu bukan hanya pembeli yang bingung, penjual pun demikian dalam mencatat perdagangannya. Jual beli kain meteran yang berukuran tidak tentu tersebut akan merumitkan dalam mementukan panjang kain sebenarnya. Hal ini sama persis dengan uang yang menentukan nilai dan harga suatu barang, yang menentukan dan yang selalu menentukan adalah objek lainnya. Ketidakmenentuan nilai uang adalah akar penyebab penyakit ekonomi modern. Kadang muncul dalam bentuk inflasi, dan dilain waktu bisa dalam bentuk deflasi.

TVM hanya akan terjadi apabila indeks harga konsumen (IHK) yang mengalami apresiasi nilai (inflasi/ deflasi) dari waktu ke waktu, dikaitkan dengan daya beli konsumen itu sendiri akibat adanya perubahan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), yang dipengaruhi oleh perubahan harga bukan uang. Jadi yang berubah itu daya beli atau harganya bukan nilai uangnya. Apresiasi inilah yang akhirnya menjadikan uang ditarik pada persoalan yang bukan masalahnya, yang menarik garis lurus bahwa terjadi perubahan nilai waktu dari uang (TVM). Padahal daya beli bukan masalah dari kehadiran uangnya, namun pendapatan yang cenderung tetap, sementara harga-harga barang yang dibutuhkan atau diinginkan manusia meningkat.

Persoalan inflasi pada mata uang ini akan menyeret pada riba yang diharamkan. Sejatinya, pinjaman dengan nilai manfaat, baik berbentuk objek uang maupun objek lainnya, akan tetap menjadi riba. Hanya saja, dominasi pinjaman yang lebih disukai masyarakat berbentuk uang sebagai fungsi turunan, yang menjadikan uang terseret lagi pada masalah ribawi yang kedua kalinya (uang juga merupakan item ribawi yang syarat dan ketentuan pertukarannya harus memenuhi fiqh agar tidak jatuh pada riba). Dewasa ini, uang juga ada yang mengeluarkannya dari fungsi utama uang itu sendiri, tidak hanya sebagai alat tukar atau alat pembayaran, namun menjadi objek pinjam peminjam layaknya sewa yang mengalami apresiasi nilai (value appreciation) dan nilai manfaat (value added). Cerita inilah yang menjadi babak baru uang (money) memiliki time value (nilai waktu) dalam investasi dan tak dapat terhindar dari riba yang diharamkan.

Pinjaman dalam bentuk selain uang akan lebih mudah dikonversikan menjadi bentuk lain sehingga terhindar dari riba, yaitu ijarah (sewa) yang dihalalkan. Riba dalam pinjam meminjam sangat bergantung niat atau awal perjanjian (akad), apakah untuk tujuan tolong menolong (tabarru) yang hukumnya sunah dan tidak berharap balasan dari peminjam, atau tujuan bisnis (tijaratan) yang hukumnya mubah dengan berharap balas dari pihak yang mengambil manfaat dari objek yang digunakannya. Hanya untuk objek-objek tertentu yang tidak bisa dikonversikan menjadi ijarah, salah satunya uang. Mengingat uang fungsinya adalah satuan nilai, alat pembayaran atau alat tukar. Berbeda dengan rumah, kendaraan, dll, yang fungsinya memungkinkan untuk disewakan, selain dijadikan objek tabarru (pinjam meminjam).

Dengan memahami konsep uang dan ikhwal keberadaan yang sebenarnya, kita tidak akan terjebak oleh pemikiran muamalah yang terlalu bebas hingga akhirnya melanggar/ menyembunyikan larangan syariat. Baik LKS (Lembaga Keuangan Syariah) maupun Anda yang hendak berinvestasi, harus berbasis riil aset atau sektor riil dalam mengelola uangnya, tidak “menyewakan uang” dan menyamakan mata uang seperti aset/ harta lainnya. Produk terkait uang hanya diperbolehkan jual beli (Ash Sharf) sebagai mata uanga/ alat bayar/ alat tukar, yang syarat dan ketentuannya sudah diatur fiqh, yaitu harus kontan dan senilai jumlahnya bila sejenis mata uangnya.

Sementara pinjam meminjam, apa yang dipinjamkan nilainya harus setara dengan yang dikembalikan. Jika selama ini pinjam meminjam uang berdampak pada nilai waktu dari uang tersebut (time value of money), misalnya pinjam 10 juta rupiah harus dikembalikan 10 juta rupiah kembali kapan pun, tidak lantas harus dirubah ketentuannya dengan menyesuaikan daya beli dari uang tersebut, hal ini sama saja dengan jual beli kain yang sudah diterangkan sebelumnya. Jika uang disertakan dalam investasi, maka kadar (ukurannya) tetap, namun tidak dikenal keuntungan yang fixed (pasti/ tetap). Sama halnya dengan harta investasi lainnya yang jumlahnya bisa bertambah atau berkurang sesuai hasil investasi, akan tetapi sebagai satuan nilai sesungguhnya ia tidak berubah, Rp 10 juta sekarang dengan Rp 10 juta yang akan datang akan tetap.

Solusi terhadap masalah time value dalam mata uang adalah dengan menjadikan emas sebagai mata uang atau standar nilai, atau dalam bahasa Imam Ghazali emas adalah timbangan muamalah yang berkeadilan. Hal ini dibuktikan dengan ilustrasi harga kambing dahulu dan kekinian yang lebih seimbang, yang dikisahkan oleh banyak ulama. Tentu saja hal ini hanya berlaku pada komoditi tertentu (umumnya non investasi, karena kambing adalah hewan/ makanan bukan objek investasi, dan bukan objek langka atau khusus). Sehingga ketika meminjamkan uang emas, tidak khawatir terjadi perubahan nilai dikemudian hari saat dikembalikan.

Untuk dijadikan brang perhiasan, logam mulia perlu dilebur dengan logam lain karena logam mulia, khususnya emas, memiliki sifat yang sangat lunak. Tujuan dari peleburan adalah agar barang menjadi lebih kuat atau untuk menghasilkan warna tertentu sesuai kebutuhan.

Sebagai logam mulia yang lunak maka untuk kepentingan membuat perhiasan emas pun jelas perlu dilebur dengan logam lain. Dalam proses peleburan emas dengan logam lain, kita dapat melihat adanya tiga fenomena utama, yakni perbedaan warna, perbedaan nilai karat, dan ongkos pembuatan.

Perbedaan Nilai Karat

Peleburan emas dengan logam lain dengan sendirinya akan menghasilkan perbandingan kuantum (perbandingan jumlah logam). Perbandingan ini lazim disebut dengan istilah karat. Perbandingan campuran ini memiliki kisaran antara 1 karat sampai 24 karat. Dengan demikian, untuk melihat seberapa besar kemurnian emas yang terkandung, kita dapat mengetahui nilai dari karatnya. Berikut ini adalah jumlah kandungan emas yang dilebur dengan logam lain dalam nilai karat:

24 karat: 24 bagian terdiri dari emas murni.

23 karat: 23 bagian  emas murni+1 bagian dari logam lain.

22 karat: 22 bagian emas murni+2 bagian dari logam lain.

21 karat: 21 bagian  emas murni+3 bagian dari logam lain.

20 karat: 20 bagian emas murni+4 bagian dari logam lain.

19 karat: 19 bagian emas murni+5 bagian dari logam lain.

18 karat: 18 bagian emas murni+6 bagian dari logam lain.

17 karat: 17 bagian emas murni+7 bagian dari logam lain, dst

Karena emas dikenal dan diakui nilainya secara intrinsik di dunia mana ada kadar kemurnian Emas menurut standar umum yang berlaku di dunia yang perlu anda ketahui:

  • Emas 24 karat adalah emas murni (99.99%)
  • Emas 22 karat memiliki komposisi 91.7% emas, dicampur bahan lain 8.3%.
  • Emas 20 karat memiliki kompoisis 83.3% emas
  • Emas 18 karat memiliki komposisi 75% emas
  • Emas 16 karat memiliki komposisi 66.6% emas
  • Emas 14 karat memiliki komposisi 58.5% emas
  • Emas 9 karat memiliki komposisi 37.5% emas

Respond For " Pahami Konsep An-Nuqûd (Uang) "

1
×
Masyarakat Indonesia Sadar Finansial Islami (Insafi) adalah gerakan moral yang bertujuan menyadarkan masyarakat Indonesia agar mempraktekan Finansial Islami dalam muamalah, dengan menghadirkan Kajian Keuangan Usaha & Keuangan Pribadi baik secara online melalui media sosial maupun offline.

Ikuti tautan ini untuk bergabung ke grup WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/9Ap37WCguBlGiOLcSM2M1B