Perencanaan Keuangan Syariah

Perencanaan keuangan syariah adalah proses pengambilan keputusan dari sejumlah pilihan, untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki dengan manajemen keuangan (kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, serta pengendalian), dalam pencarian dan penyimpanan dana/ harta kekayaan/ aset, sesuai syariat (peraturan). Syariat juga bermakna Al Qur‟an & Al Hadits, sebagaimana di jelaskan kata syariat dalam Al Qur’an surat Al-Jathiyah Ayat 18.

Korelasi makna bahasa dan makna syar‟i ال شري عة م قا صد (maqashid syari‟ah) adalah jalan ke arah sumber pokok kehidupan. Berarti tujuan dan fungsi syariat berupa mendatangkan kemaslahatan, baik dalam bentuk mewujudkan maupun memelihara kemaslahatan tersebut. Al-Syatibi mendefiniskan: “maqashid syari‟ah bertujuan mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.”

Islam melihat harta sebagai sarana penting untuk mencapai target syar‟i, baik duniawi maupun ukhrawi, baik individu maupun sosial. Seseorang tidak mampu menjaga keseimbangan hidupnya yang bersifat materi kecuali melalui harta (makna ini juga yang terkandung dari ayat 77 surat Al Qashash). Dengan harta, ia dapat makan, minum, berpakaian, membangun rumahnya, membuat senjata yang dapat melindungi diri dan kehormatannya dan mengembangkan dirinya. Al Qur‟an memandang harta sebagai qiyaaman (pokok kehidupan).

Dengan harta juga, manusia dapat berzakat, bersedekah dan berperan dalam kebajikan. Al Qur’an menjelaskan bahwa uang atau harta bukanlah sesuatu yang buruk pada diri manusia secara substansial, sebagaimana yang diyakini oleh beberapa agama dan filsafat yang dibangun di atas prinsip pelarangan materi dan penyiksaan tubuh (membatasi diri) demi peningkatan kualitas kerohaniahan individu tersebut di mata penciptanya.
Meskipun penghargaan Islam terhadap harta amat tinggi, namun dalam waktuyang sama Islam memperingatkan agar tidak terbujuk dan tergoda olehnya. Allah -subhanahu wa ta’alaa- mengecam orang-orang yang sibuk mengumpulkan harta, yang meyakini bahwa dengan hartanya ia dapat mempertahankan hidupnya sehingga lupa akan kematian. Lupa di sini artinya rasa enggan bertemu Tuhannya yang dimanifestasikan dengan ketidak-acuhannya terhadap kepentingan akhirat selama hidupnya.

Menurut Imam Fakhruddin ar-Razy rahimahullah berkata, “Harta (al-maalu) disebut harta (maal) karena setiap orang banyak condong dan cenderung kepadanya. Cenderung dalam bahasa arabnya adalah mailun, berasal kata: maala, yamiilu, maa’ilun, dan maalun. Karena itulah secara tabiat harta disukai manusia. Penyebabnya adalah kesempurnaan, harta merupakan sebab menggapai penyempurnaan kemampuan hak manusia. Banyak harta akan mendatangkan kekuatan dan kesempurnaan kemampuan manusia. Bertambahnya harta mengakibatkan bertambahnya kemampuan seorang manusia.

Untuk itulah, tata kelola harta ini menjadi perhatian terbesar manusia, bukan saja mengatasi kesempitan, namun juga dapat mendapatkan apa yang diharapkan dari harta tersebut, terlebih sebagai seorang muslim diharapkan menjadi sebuah amal kebaikan dengan mengikuti tuntunan Al Qur‟an & Hadits sebagai rujukan utama.

Terkait panduan dalam membuat perencaanaan keuangan dalam Islam, seorang ulama besar, Al Hasan Al Bashriy, berpendapat dalam Tahdziib Al Aatsaar, Ath thabariy, J. 1, hal. 139, yang menyatakan bahwa Allah -subhanahu wa ta’alaa- mengasihi orang yang mencari rezeki yang halal, membelanjakan secara hemat (wajar) dan menyimpan kelebihannya untuk kepentingan di saat sulit dan di saat memerlukannya. Artinya, dalam perencanaan keuangan syariah harus memperhatikan 3 pokok perkara, yaitu; 1). Landasan aqidah dalam cara mendapatkannya (rezeki yang halal), kemudian 2). Membelanjakan secara benar, dan 3) Menyimpannya (berinvestasi) untuk masa yang akan datang.*

Bagaimana Anda memulai menyusun sebuah perencanaan keuangan?

Langkah 1
Lihatlah diri Anda sendiri, dimanakah posisi Anda?
Mulailah dengan melihat hal-hal penting, seperti tujuan-tujuan keuangan dan kekhawatiran-kehawatiran Anda terhadap keuangan masa yang akan datang. Perencanaan dapat juga dimulai dari melihat Anda dan keluarga berada dalam lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun dari sekarang. Anda akan menggunakan semua informasi tersebut untuk menyusun sebuah perencaan keuangan yang komprehensif, yang meliputi analisa nilai kekayaan, analisa alokasi asset, analisa dana pendidikan untuk anak Anda, analisa manajemen risiko, analisa perencaan pensiun, serta analisa perencanaan waris.

Workbook (sebagai agenda kerja Anda) memastikan bahwa portfolio investasi Anda benar-benar terfokus dan sesuai dengan karakteristik kepribadian Anda, baik sebagai seorang investor maupun sebagai seorang insan yang berkomitmen untuk membangun kondisi keuangan yang aman bagi Anda dan keluarga.

Nah, bagaimana dengan Islam sendiri? Apakah ada tuntunan Al Qur‟an dan Al Hadits yang membimbing manusia untuk mengatur keuangannya. Tentu saja ada. Bahkan berdasarkan hukum syariat, agar upaya kita dinilai ibadah (nyunah atau mengikuti petunjuk Allah Ta‟ala dan RasulNYA), harus mengikuti nash-nash yang telah ada. Bagi seorang mulim mengikuti petunjuk Allah Ta‟ala dan RasulNYA bukan hanya sebagai panduan hidup, namun meyakini bernilai pahala.

Islam tidak membenci harta, namun mewaspadai keburukan perilaku manusi terhadap harta, seperti firman Allah Ta‟ala dalam surat Al Isra ayat 26-27, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” Diperkuat dengan surat Al Furqon ayat 67,”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Penegasan ini mensiratkan bahwa seorang muslim harus pandai mengelola uang (harta) atau cerdas finansial. Dengan demikian secara tegas dapat dikatakan Islam sebagai penggerak perencanaan keuangan. Mengapa?

Betapa tidak, Al Qur‟an yang diturunkan 14 abad lalu, melalui ayat-ayatnya telah menegaskan pentingnya merencanakan keuangan, agar bisa membelanjakan harta ditengah-tengah antara keduanya (tidak berlebihan/ boros dan kikir).

Langkah 2
Kelola kedua sisi neraca keuangan pribadi Anda…
(Analisa kekayaan bersih Anda)
Saat berbicara mengenai perencanaan keuangan yang baik, mengelola hutang yang Anda miliki sama pentingnya dengan mengelola apa yang sudah Anda miliki. Pikirkanlah mengenai cicilan rumah, cicilan mobil/kendaraan bermotor, hutang kartu kredit, semuanya berpengaruh pada kekayaan bersih Anda, dan tentunya berdampak pada perencanaan tabungan dan strategi investasi. Dengan bekal semua informasi ini, Anda akan melakukan analisa kekayaan bersih dan membantu Anda untuk:
* Menganalisa kekayaan bersih Anda, saat ini dan dari waktu ke waktu.
* Memperbaiki arus kas, jika memang diperlukan.
* Tetap berdisiplin dalam melakukan investasi untuk terus membangun dan menumbuhkan kekayaan bersih Anda dengan cara memanfaatkan asset yang ada, bukan dengan menjualnya.

Langkah 3
Memandirikan Anak
(Analisa dana pendidikan untuk anak Anda, Persiapan pernikahan, dll)
Untuk dapat diterima di sebuah universitas yang baik tentu merupakan sesuatu yang tidak mudah. Namun menyediakan uang yang cukup untuk mendanai kuliah ternyata lebih sulit lagi. Dalam kenyataannya, di samping membeli sebuah rumah, dana pendidikan adalah salah satu perencanaan terbesar yang perlu Anda lakukan. Di sinilah peran perencanaan Keuangan yang siap membantu Anda untuk membuat renca yang matang. Sebelum memulai merencanakan, analisa lebih dahulu mengenai berapa besar uang yang Anda ingin keluarkan dan kapan. Bicarakanlah dana kebutuhan tersebut dalam nilai uang hari ini, sebelum faktor inflasi diikutkan dalam perhitungan, analisa yang Anda lakukan akan menganalisa investasi Anda saat ini dan memproyeksikan kebutuhan dana pendidikan anak Anda serta memformulasikan strategi pengelolaan dana untuk memenuhi kebutuhan tersebut tepat pada waktunya.

Langkah 4
Menjalani masa pensiun yang sejahtera
(Analisa perencaan pensiun)
Bagi banyak orang, masa pensiun ternyata bukanlah saat untuk mengurangi kegiatan dan aktivitas, malah sebaliknya: untuk melakukan lebih banyak hal. Jadi, apa yang seharusnya Anda lakukan untuk tetap mempertahankan gaya hidup yang Anda nikmati? Utarakanlah bagaimana Anda ingin menjalani masa pensiun. Pertimbangkanlah apakah Anda ingin melancong keliling dunia, atau mungkin membeli lebih banyak properti, atau hidup dengan kualitas sama persis seperti saat ini. Anda akan melakukan analisa atas asset-asset yang Anda miliki saat ini, mengevaluasi tujuan-tujuan keuangan yang ingin Anda raih, dan akhirnya menyusun sebuah perencanaan keuangan yang:
* Mempertimbangkan asset-asset Anda, tingkat pengembalian atas investasi, serta pendapatan dan pengeluaran.
* Merekomendasikan program tabungan dan tingkat pengembalian yang diperlukan.
* Memberikan analisa arus kas yang menunjukkan rincian sumber-sumber pendapatan Anda selama menjalani masa pensiun.

Langkah 5
Apakah asset Anda sudah terdiversifikasi dengan baik?
(Analisa alokasi asset)
Bagaimana Anda mengalokasikan asset sangat menentukan kinerja hasil investasi Anda. Kenyataannya, salah satu cara terbaik untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi dalam berinvestasi adalah dengan melakukan diversifikasi instrumen investasi. Segera setelah Anda mereview alokasi asset yang telah dilakukan saat ini, maka analisalah untuk memberikan rekomendasi strategi investasi yang terdiversifikasi dengan baik, yang tentunya disesuaikan dengan tujuan-tujuan yang ingin Anda raih, toleransi risiko Anda sebagai seorang pribadi yang unik, dan jangka waktu investasi yang Anda inginkan. Analisa alokasi asset dapat:
* Memberikan rekomendasi alokasi asset portfolio Anda.
* Memperhitungkan iklim investasi saat ini dalam memformulasikan strategi investasi yang paling tepat untuk Anda.
* Menyarankan penyesuaian komposisi portfolio manakala terjadi perubahan dalam situasi keuangan atau tujuan-tujuan jangka panjang Anda.

Langkah 6
Lindungilah apa yang Anda miliki…
(Analisa manajemen risiko)
Apakah Anda telah melestarikan asset-asset yang Anda peroleh dengan kerja keras selama bertahun-tahun? Apakah Anda melakukan perlindungan atas nilai ekonomis aset Anda? Seberapa besar kemungkinan bagi Anda untuk membutuhkan perawatan jangka panjang jika terjadi resiko? Analisa manajemen risiko yang dilakukan akan dapat membantu Anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut serta menyimpulkan apakah Anda dan keluarga telah mengantisipasi secara finansial dengan baik seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Langkah 7
Dan pada akhirnya, keluarga menikmati kerja keras Anda
(Analisa perencanaan waris)
Perencaan waris yang baik dapat memberikan kepastian bahwa bagian terbesar dari kekayaan yang telah Anda bangun sepanjang hidup Anda terlindungi dengan baik dan kelak akan dibagikan sesuai dengan cara yang Anda inginkan. Pastikan Anda merencanakan mengenai prioritas yang Anda inginkan untuk kekayaan Anda, baik untuk hari ini maupun kelak saat Anda telah berpulang. Anda dapat memberikan analisa mengidentifikasikan strategi-strategi yang dapat dilaksanakan sesuai syariat dan mewariskan kekayaan Anda dalam jumlah yang semaksimal mungkin kepada orang-orang yang Anda cintai.

Saad Ibnu Waqqash Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku berkata, wahai Rasulullah, aku mempunyai harta dan tidak ada yang mewarisiku kecuali anak perempuanku satu-satunya. Bolehkah aku bersedekah dengan dua pertiga hartaku? Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Aku bertanya: Apakah aku menyedekahkan setengahnya? Beliau menjawab: “Tidak boleh.” Aku bertanya lagi: Apakah aku sedekahkan sepertiganya? Beliau menjawab: “Ya, sepertiga, da sepertiga itu banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan fakit meminta-minta kepada orang.” Muttafaq Alaihi.

Bahan diambil dari Buku Kerja Menyusun Perencanaan Keuangan Syariah
(Workbook; How to Create Shari’ah Financial Planning)
Copyright ©2011 by Agus Rijal (Abu Yusuf)
All rights reserved
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Diterbitkan oleh
RY2FAL Publishing
Under Lisence ArRIJAL & Partners
Buku kerja ini disusun untuk menggenapi materi praktek Course for Shari’ah Financial Planning (التدريب للتخطيط المالي الإسلامي) yang diselenggarakan ArRIJAL College, unit of ArRIJAL Foundation.
Dan diterbitkan pertamakali sebagai pelengkap Buku Pelatihan Perencanaan Keuangan Syariah oleh ArRIJAL & Partners
(KDT; Katalog Dalam Terbitan)
ISBN : 978-602-19351-1-8

Respond For " Perencanaan Keuangan Syariah "

1
×
Masyarakat Indonesia Sadar Finansial Islami (Insafi) adalah gerakan moral yang bertujuan menyadarkan masyarakat Indonesia agar mempraktekan Finansial Islami dalam muamalah, dengan menghadirkan Kajian Keuangan Usaha & Keuangan Pribadi baik secara online melalui media sosial maupun offline.

Ikuti tautan ini untuk bergabung ke grup WhatsApp: https://chat.whatsapp.com/9Ap37WCguBlGiOLcSM2M1B